[ Artikel ] Penyalahgunaan Narkoba

 

Pada era sekarang ini, berjuta-juta remaja di Indonesia bahkan Asia menyalagunakan narkoba. Menurut data UNDCP ( L’niled Nations Drug Control Program) lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia telah menyalagunakan narkoba, mulai dari penyalagunaan dengan cara penghisapan bahan-bahan kimia(dikenal dengan istilah ngelem) oleh anak-anak jalanan, lalu penggunaan ectasy dikalangan anak remaja dan sampai kepada pecandu berat dari heroin (dikenal sebagai putauw).

Kesengsaraan yang ditimbulkan oleh penyalagunaan narkoba tidak dapat dihitung. Pemakaian narkoba dalam masyarakatlah yang menyebabkan hilangnya harta, meningkatnya biaya kesehatan, kekerasan yang terjadi di jalan-jalan, meningkatnya kriminalitas dan hancurnya sebuah masyarakat.

Salah satu alasan meningkatnya penyalagunaan narkoba di kalangan anak-anak adalah kurangnya pendidikan dasar tentang narkoba baik dikalangan para orang tua dan anak-anak. Terutama banyak orang tua yang tidak menyadari pengaruh narkoba yang ada di masyarakat dan bahaya yang dihadapi anak-anak setiap harinya.

Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi (termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Namun realita yang terjadi saat ini bertentangan dengan kesepakatan tersebut, sudah ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan Universitas Indonesia). (Chosiyah:2009)

Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini.Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba.Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam. Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba mengisap rokok.Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.

Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan, apalagi para pelakunya sebagian besar adalah generasi muda yang diharapkan menjadi pewaris dan penerus perjuangan bangsa di masa depan. Secara yuridis, instrumen hukum yang mengaturnya baik berupa peraturan perundang-undangan maupun konvensi yang sudah diratifikasi, sebenarnya sudah jauh dari cukup sebagai dasar pemberantasan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba.Tetapi dalam praktek penegakan hukumnya masih terkesan tidak sungguh-sungguh, karena seringkali pelaku hanya dihukum ringan atau malah dibebaskan begitu saja.Mengingat peredaran narkoba sekarang ini sudah begitu merebak, maka upaya penanggulangannya tidak dapat semata-mata dibebankan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum saja, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama.

 

Data penyalagunaan peredaran gelap narkotika

Jumlah kasus

 

Tahun 1998 :       narkotika             : 421 kasus , Psikotropika       : 416 kasus

Tahun 1999         narkotika             : 894 kasus, Psikotropika       : 839 kasusu

Tahun 2000         narkotika             : 2058, Psikotropika       : 1356

 

Jumlah tersangka

 

Tahun 1998         WNI       : 1259, WNA     : 49

Tahun 1999         WNI       : 2542, WNA     : 48

Tahun 2000         WNI       : 4895, WNA     : 60

(dari buku : “Pengawasan serta peran aktif orangtua dan aparat dalam penanggulangan dan penyalagunaan narkoba” karangan Hadiman , hal : 95)

 

“Berdasarkan laporan kalakhar BNN dalam Rakerpim Polri jaringan peredaran gelap narkoba terbesar saat ini adalah : jalur Cina-Hongkong-Jakarta-Australia. Di kawasan ASEAN, Pilipina, Malaysia dan Indonesia merupkan daerah paling rawan. Sistem penegakkan hukum yang masih lemah, sehingga Indonesia menjadi asasaran empuk bagi pengedar.” ( Hasil Rakerpim di bidang pencegahan pemberantasan penyalagunaan dan peredaran gerlap narkoba oleh Klakhar BNN-polda metro jaya, 8 April 2004 (dari buku : Pengawasan serta peran aktif orangtua dan aparat dalam penanggulangan dan penyalagunaan narkoba. Karangan Hadiman, hal 33)

Kasus Narkotika di jakarta meningkat 11,2 persen yakni dari 2370 menjadi 2973 kasus dari 2002 ke akhir 2003 dan dari 2973 kasus tersebut, polisi baru menyelesaikan 2362 kasus. Polisi menangkap 3828 tersangka kasus narkoba yang diantarannya sebanyak 3573 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Adapun barang bukti yang disita diantarannya heroin 24,359 kilogram, ganja 456,117 ton dan shabu-shabu seberat 8,801 kilogram, serta ekstasi 17.374 butir  (tempo interaktif 31 des 2003) (dari buku : Pengawasan serta peran aktif orangtua dan aparat dalam penanggulangan dan penyalagunaan narkoba. Karangan Hadiman ,hal 46)

 Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan,atau ketagihan yang sangat berat (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997).

Jenis narkotika di bagi atas 3 golongan :

  1. Narkotika golongan I : adalah narkotika yang paling berbahaya, daya adiktif sangat tinggi menyebabkan ketergantunggan. Tidak dapat digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, morphine, putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.
  2. Narkotika golongan II : adalah narkotika yang memilki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : petidindan turunannya, benzetidin, betametadol.
  3. Narkotika golongan III : adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi dapat bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian.Contoh : codein dan turunannya (Martono,2006).

(dari buku : Pengawasan serta peran aktif orangtua dan aparat dalam penanggulangan dan penyalagunaan narkoba. Karangan Hadiman, hal 69)

 

Dasar Hukum narkotika

  1. Pasal 5 ayat 1 dan pasal 20 ayat 1 UUD 1945
  2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan
    Konvensi Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun
    1972 yang Mengubahnya (Lembaran Negara Republik
    Indonesia Tahun 1976 Nomor 36, Tambahan Lembaran
    Negara Nomor 3085)
  3. Undang Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan(Lembaga negara, tahun 1992 nomor 100, tambahan lembaran negara nomor 3495)

Nah, sekian ya Lur artikel megenai Narkoba yang penyebarannya sampai sekarang masih beredar bebas. Mari sebagai generasi muda penerus bangsa kita wajib menjauhi penyalagunaan Narkoba. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *